Seorang warga di Lingkungan Rangas Pa’besoang, Kelurahan Rangas, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, bernama Masud Munri, mempertanyakan kejelasan program bantuan bedah rumah yang hingga kini belum pernah menyentuh kediamannya.
Masud mengaku telah menunggu selama kurang lebih dua tahun, namun rumah yang ia tempati tidak pernah masuk dalam pendataan program tersebut. Padahal, berdasarkan data Kementerian Sosial, dirinya termasuk dalam kategori Desil 1 atau kelompok masyarakat miskin ekstrem.
“Saya bingung dengan pemerintah. Nama saya terdata di Desil 1 Kemensos, tapi rumah saya tidak pernah didata,” ujarnya, Senin (18/5/2026).
Masud juga mengungkapkan bahwa dirinya telah mendatangi Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimtan) Kabupaten Majene untuk memastikan status datanya. Namun, ia justru mendapatkan jawaban bahwa datanya tidak tercatat di instansi tersebut.
“Saya datang langsung ke Perkimtan, tapi mereka bilang data saya tidak ada. Katanya sesuai penyampaian dari pihak Kelurahan Rangas, warga tidak boleh langsung mengurus berkas sendiri,” tambahnya.
Kondisi ini membuat Masud merasa kebingungan dan tidak tahu harus mengadu ke mana. Ia menilai ada ketidaksesuaian dalam proses pendataan, bahkan menduga adanya ketimpangan dalam penyaluran bantuan.
“Kami yang miskin seperti dipandang sebelah mata. Sementara ada rumah yang sudah layak huni justru mendapat bantuan bedah rumah,” keluhnya.
Masud berharap pemerintah daerah, khususnya pihak Kelurahan Rangas, Dinas Sosial, dan Dinas Perkimtan Kabupaten Majene, dapat memberikan penjelasan transparan terkait mekanisme pendataan dan penyaluran bantuan. Ia juga meminta agar proses verifikasi dilakukan secara adil dan tepat sasaran.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai persoalan yang dialami warga tersebut.



